 |
| terkadang seorang wanita perlu menangis saat belenggunya tiba. |
Belenggu dalam jiwa
Jejak
derita selalu terarah pada diriku mengapa tidak? saat ini kumerasakan kejamnya dunia.saat
ini ku terdiam dan membayangkan bagaimana rasanya memakai seragam merah putih
lagi. Lagi? Ya dulu sempat ku memiliki namun hanya sekejap, dunia sudah merebut
kebahagiaan masa kecilku. goresan-goresan hidup yang aku alami membiasakanku
pada pagi hari yang terbiasa tanpa sekolah,disiang hari yang tanpa teman untuk
bermain , disore hari mandi tanpa kamar mandi yang layak,di malam hari yang
terbiasa merasakan dinginnya malam.
Sempat
terbesit ingin ku lenyapkan masa-masa sulit ini dan ku biarkan terbawa
angin.sejak ibuku pergi entah kemana hidupku hanya didampingi oleh senyuman
sang ayah yang selalu menguatkanku,menyadarkanku, betapa berharganya hidup kita
ini.hidup serba sangat kekurangan makan pun tak bergizi,tempat pun tak layak
huni.ingin rasanya aku memarahi duniawi,tak sanggup ku melihat harga diri .
Selalu hariku diselimuti kalbu api,diterjuni tetesan air .pada saat itu hanya
ayahlah supermen sekaligus wonderwomenku. Betapa bangganya ku pada ayah.
“Sudahi
saja ingin rasanya ku meninggalkan rumah tanpa kehidupan seperti ini!.”ujar ibu
seraya menyepakkan baju siap-siap meninggalkan rumah. “pergi dari sini dan bawa anak
laki-lakimu bersamamu biar yuli bersamaku!.” Ujar ayahku seraya membentak
Setelah itu
hitam ,setelah itu gelap. Entah apa yang mereka bicarakan sehingga adekku
menangis menatapku.aku sadar itu bukan perkelahian yang biasa.aku hanya terdiam
diri dan berdoa semoga hanya mimpi. Setelah ku buka mataku hanya ada ayah
tertunduk lemas menangisi penyesalan,ku tak berani membuka mulut untuk
menanyakan kemana ibu? Kemana sakti, adekku? Aku baru sadar itu bukanlah mimpi.
Memulai hari dengan kegelapan, tanpa arti,
tanpa kasih sayang ibu,tanpa sesosok adek yang menjengkelkan. sudah terbiasa
hari-hariku setelah beberapa bulan ibu dan adekku meninggalkanku. Dunia mulai
memainkan diriku! di bandung ku menetap dengan ayah disana ku biasakan bahagia
tanpa ibu,kubiasakan memakan masakan ayah, kubiasakan telinga hening tanpa ada
yang mengomeliku, ku biasakan tersenyum lebar jika ayah menanyaiku,
“tak
rindukah anakku dengan ibumu?” sambil mengelus rambutku, “rindu
yang amat teramat rindu,apakah ayah pun begitu?”dengan diakhiri senyuman
menahan tangisan yang sudah membludak.“ini keadaannya kita tanpa ibu
kamu harus terbiasa ini pilihannya nak.”itulah ujarnya setiapku
menanyakannya,aku sadar ayah pun begitu rindu tapi memang ini pilihan ibu.
Beberapa
bulan bahkan hampir setahun ku tanpa ibu semua yang aku lakukan hambar tapi ku
berpura-pura menikmatinya,hutang sana-sini ,ayah pengangguran,ibu tak ada
,akhirnya tak sekolahpun juga pilihanku. Bagaimana ku sekolah, untuk makan saja
ayah masih hutang. Pada awalnya aku merasa malu memiliki ayah seperti itu.tapi
ini kenyataan yang harus kuterima. Entah apa yang sudah direncanakan ayah, ayah
memutuskan untuk pergi dari bandung dan mencari kota yang cocok untuk aku dan
ayah. Dari sini kehidupanku yang
sebenarnya dimulai.
“mengapa
kita berada disini?” ku heran melihat ayah memasuki area pabrik tua
.”kita akan
tinggal disini beberapa hari menunggu ayah mendapatkan rumah”. “dimana kita ini ayah?.sekali ku Tanya
dengan heran. “kita menginjakkan kaki kekota bogor,disini ayah ada saudara tapi
kamu tak boleh kesana!”ujarnya setengah membentak.
Aku resah mendengar jawaban
ayah tak biasanya dia seperti ini, ada apa dengan kota ini? Mengapa ayah
memilih kota bogor?,mengapa aku tak boleh kesaudaraku sendiri?. Tak sadar
dengan percakapan kami ayah memilih tempat yang benar-benar tempat yang seperti
sampah bagiku, “ayah mengapa ayah tega memilih tempat seperti ini untuk anakmu !”kali
ini aku benar-benar murka.
Rasanya
ingin mengutuk ayah kali ini benar-benar tak masuk akal , tidur di angkot tua
tanpa kaca , kumelihat dalamnya saja hancur berantakan banyak pecahan kaca
tergeletak puas. Lebam hati ini benar-benar hancur hidupku ini sampai-sampai
angkot tua menjadi rumah kita untuk malam ini. Aku merasakan diriku satu-satunya
yang sangat miskin dan hina di dunia ini. Setelah ku memarahi ayah ku merasa
bersalah tak seharusnya ku mengatakan
kata kasar padanya bagaimanapun juga ayah sudah berusaha untukku. Ku
melihat ayah membersihkan isi angkot yang banyak pecahan kaca agar ku bisa
tidur tanpa dilukai ,mataku hanya terarah pada derita tajam ini . “tidur
sebelah sini nak,ayah sudah menyiapkan tempat tidurmu dengan nyaman” seraya
menepuk tempat yang seharusnya tidakku tiduri. Dan membuyarkan lamunanku , aku
memasuki dengan berat hati setelah masuk aku menemukan jajaran bangku yang satu
sudah tertata dengan banyak selimut dan satunya kosong tanpa sehelai benang,
“dimana aku
tidur ayah ?” “sebelah sini anakku,ayah sudah menyiapkan tempat tidur yang
nyaman ayah sudah melapisi beberapa selimut untuk tempat duduk angkot menjadi
tempat tidur yang empuk,agar kamu nyenyak nantinya.
“bagaimana dengan ayah,tak ada
bantal, tak ada selimut, tak ada lapisan empuk untukmu ?. “jangan kwatirkan ayah, tempat seperti ini
saja ayah sudah sangat merasakan nyaman asalkan putri ayah nyaman. jawaban ayah bagaikan petir yang menyambar lurus
hatiku,merasakan tersayat diluka diatas luka, mulai kurebakan badan ini dan
merasakan dinginnya malam tanpa atap dan jendela.
Suara
hentakan keras membangunkan ku,perlahan ku membuka mata ,dan sedikit berharap
ku tak ditempat yang sama seperti semalam. Kekecewaan di pagi hari sungguh
terlihat bagaikan di negri dongeng ,bagaikan aku dan ayah menjadi kawanan raksasa jahat, raksasa jahat di dunia nyata adalah dunia
yang kejam , hidup mengartikanku ketabahan dan kesadaran yang kuat,ketabahan
dengan kondisiku sekarang dan kesadaran dengan kondisi disaat ini aku sadar
harus tabah.
“ayah
apa yang sedang engkau kerjakan?” aku tampak heran karena ayah mengerjakan sesuatu di bawah
pohon mangga yang amat besar. “ ayah sedang mengerjakan rumah buat kita tidur
walau tanpa dapur,tanpa ruang tamu,tanpa kamar mandi." ” Itu bukan rumah ayah itu
pantas disebut gubuk.” Dengan menahan
bendungan air mata."
“maafkan ayah, ini yang ayah bisa lakukan untuk kita meluruskan hidup”
Beberapa
hari ayah hanya mengerjakan rumah tidak tapi gubuk lebih tepatnya. Dalam
beberapa hari juga aku dan ayah hanya memakan bubur,bubur dan bubur. Dengan
modal batu bata di tumpuk untuk dijadikan kompor, benar-benar hancur hidup ku
saat ini ,mungkin seterusnya. Setiap hari bosan dengan nasehat ayah yang setiap
harinya sama. Sangat memuakkan, menjengkelkan , dan saat itu juga aku sudah
menganggap ibuku mati. Mungkin ibu dan sakti disana berkecukupan dengan uang
berlimpah , sedangkan aku berlimpah keterpurukan.
Sudah
berhari-hari ku menetap di pabrik natathecoco tua ,tanpa teman,tanpa
sekolah,tanpa keluarga yang menyemangatiku. Cukup lama ayah membangun gubuk
untuk aku dan ayah menghilangkan penak yang kita rasakan. Gubuk sudah jadi ayah
merasa bangga karena ayah yang mengerjakan sendiri dan aku hanya tersenyum pait
melihatnya.
“nak ini rumah kita kamu bisa tidur disini tidak lagi diangkot
butut itu lagi.”
“apa bedanya angkot butut itu dengan gubuk yang lebih butut
ini?sama-sama tak layak.”
“nak ayah berharap tak akan lama disini dan mari kita
berjuang bersama-sama untuk menaklukan dunia”
dengan senyuman hangatnya. Nada
dan perkataanya masuk dalam jiwa dan menyadarkanku kembali.
“apa
ayah hanya seperti ini tidak melakukan apa-apa?”
“ayah akan menjadi supir di
pagi dan sore hari ,dan malam ayah akan menjadi tukang tambal ban.”
Ya
tuhan mengapa kau beri cobaan sedemikian beratnya untuk kami. aku benar-benar
tak mampu untuk menampung semua masalah,semua teluk derita. Tak mampu ku simpan
dalam luka,tak mampu ku simpan dalam dada. jiwaku tak mampu menahan rasa yang
ada.
Belengguku tak sepadan dengan
masalahku, kehidupanku membuat banyak pertanyaan, kasian sekali diriku hanya
mempunyai setengah petak untukku merebahkan penat.
Awan
di langit biru menunjukan hari yang sangat cerah,berbulan-bulan ku tinggal di
tempat kumuh,tanpa rumah yang kokoh,ku berpijar disini. Dengan penghasilan ayah
tak seberapa,hanya bisa membeli tiap harinya dengan menu yang sama yaitu
tongkol. Mungkin ini masakan mewah untuk ayah dan aku. Setiap harinya ku
terbiasa dengan hidup seperti ini dari hal terkecil ku sudah mengartikan ini
keluarga kecilku dengan ayah dan gubuk yang menjadi rumah ketika di malam
hari.bersyukur dari apa saja yang aku dapatkan.\
“yah ini makanannya ini jatah
ayah.”
“dari mana kamu mendapatkan uang
untuk membeli makan?” Tanya ayah dengan heran “hanya pekerjaan ringan yg bisa aku
lakukan ayah, mencoba berjualan plastik besar di pasar untuk membantu ibu2 yang
membeli banyak bahan makanan,dan ojek payung, ini kan musim ujan yah, ini yang
aku lakukan baru-baru ini”
“kenapa
kamu bekerja keras seperti ini nak, biar ayah yang mencari nafkah kamu tetap
disini di gubuk ini !”suara ayah teriris saat mengetahui anaknya bekerja untuk
menghasilkan sebuah nasi dan tongkol.diusiaku mungkin belum pantas untuk
dikatakan dewasa bahkan remaja,memang
aku yang nekat untuk bekerja karna aku tak tahan karena hanya ayah yang
mengeluarkan begitu banyak keringat.
Saat
itu aku mempunyai teman yang sama-sama senasib,
hidup dengan liar,tanpa batas,tanpa aturan, itu yang aku rasakan. Hancur kehidupanku,hancur masa
depanku. pemikiran itu yang selalu terbesit. Sebelum itu aku juga mempunyai
teman yang lebih diatasku dia bermain denganku tapi lama-kelamaan aku hanya
sebagai pajangan bagi mereka,sebagai umpan maianan. Benar-benar tak adil di
masa kecilku sangat menyedihkan. “kamu itu miskin jangan bermain dengan kita”
“iya iya enggak ada ibunya juga! jadi gag ada yang ngerawat dekil gitu.” Itu
yang dilontarkan anak-anak kaya kepadaku. Mulai saat itu aku menjauh dan menghilang.
Yang aku lakukan hanya berdiam di gubuk dan ngojek payung tanpa sepengetahuan
ayah.
Pagi
hari aku tebangun karena ayah membangunkanku, ayah meminta tolong hari ini aku
yang masak dan ayah tidak bekerja dikarenakan sakit,namun berhari-hari sakit
ayah makin lama makin parah. Ayah tak bisa bicara, tak bisa menggerakan
setengah tubuhnya . dan orang-orang pabrik menyebutnya rematik. Aku terkaget
dan bertanya apakah ayah akan meninggalkanku?. Bertambah perih batin ini kenapa
begitu berat cobaanku kali ini. Tumpah ruah deritaku,apa yang ingin ditunjukan
tuhan untuk aku kali ini.
“yah makan
bubur dulu ya biar cepet sembuh?”
“iiiiiya” jawabnya
terbata-bata
“yah jangan
pernah tinggalin yuli sendiri di gubuk ini ya yah, cukup takut yuli disini
sendiri disaat ayah kerja.” Derai air mataku bertumpah tak kuat menahan
kelelahan hidup,kebelengguan dalam jiwa. Dan ayah hanya menjawab dengan tetesan
air mata juga.
Lama ayah menderita rematik dan
setiap harinya aku yang merawat ayah. Memandikannya,menyiram kotorannya. Berminggu-minggu
ayah sakit seperti itu. Banyak orang yang berdatang dari teman yang dulu, teman
kerja, tukang bengkel.dan yang lainnya. Mungkin orang-orang berdatangan membawa
berkah juga,karena banyak makanan dan uang pun cukup untuk membeli beras dan
dimasak menjadi bubur. Itu juga aku
berkesempatan untuk tidak mengojek lagi karena aku fokuskan untuk merawat sang
ayah tercinta agar lekas sembuh.
hari dan keadaan yang benar-benar
aku takuti benar-benar nyata menimpa diriku. Ayah benar-benar meninggalkanku.
Ayah meninggalkanku tanpa rumah,dan ibu yang menggantikannya.relung kisahku
selalu sedih,selalu menderita,selalu gelap. Ingin sekali ku merasakan cahaya
kehidupan yang damai. Ayah meninggalkan ku dengan tenang. Tapi aku disini tak
memiliki siapa-siapa terdiam melihat ayah tidur dengan senyuman hangatnya,tidur
tanpa mengigau,tidur tanpa baju yang selalu ia pakai, semua kisahku dengan ayah
cukup sampai disini , ayah mengajariku gelap didalam cahaya, kehidupan miskin
tapi kaya bahagia. Ayah selalu mengajariku lebih baik tangan di atas dari pada
dibawah, namun aku susah menerapkannya bahwa aku memang berada di tangan bawah.
Selamat tinggal ayah terima kasih untuk semua yang ayah lakukan,yang ayah
berikan, terimakasih atas rumah mungil yang menemani aku dan ayah tidur. Terima
kasih telah mengajariku memasak bubur hambar,terima kasih telah mengajariku
kesederhanaan, terimakasih semuanya. Aku iklas ,aku ridho, semua yang aku
ucapkan tidak berarti apa-apa untuk mu selama ini yang selalu menjadi panutanku
ayah. Kisah ini sekaligus cerita terakhir untuk kehidupanku seperti ini dan
hanya aku yang merasakan seperti ini . merasakan perih,gelap,sakit.hanya aku.
Kehidupan itu bagaikan roda selalu
berputar dan berubah arah. Sama dengan kehidupan kita selalu berputar pada
perasaan,pada keinginan.berubah pada materi kaya menjadi miskin, dan miskin
menjadi kaya. Allah adil dengan kehidupan kita namun tergantung kita seberapa
dekatnya kita dengan allah, selalu syukuri apa yang kita punya.perubahan hidup
memang membuat kita lupa dengan siapa kita diciptakan, dengan apa kita hidup.
Dan sering kali saya alami , namun dengan jalannya waktu saya menyadari keadaan
seperti ini banyak hikamah, allah mungkin mempunyai alasan tersendiri.
Ketika
ingin mengatakan “ingin hidup seperti ini” namun teringat keadaan yang sekarang
seperti apa sangat mustahil. Ingin bahagia tanpa rintangan untuk apa hidup
hanya merasakan gula saja, untuk apa hidup dengan satu warna , dengan satu
tujuan, dengan satu keinginan. Tak beragam. Kehidupan itu banyak warna,banyak
rasa itu nama kehidupan yang nyata, ternilai dan sangat berharga, banyak kisah
yang ingin ku tulis namun ku urungkan niat karena masih banyak diluar sana yang menulis kisah yang mungkin akan lebih
perih dengan kisahku ini.
Untuk
terakhirku ucapkan, terima kasih ayah , terima kasih telah menjadi pahlawanku.
~SELAMAT
MEMBACA~